Kamis, 02 Maret 2017

SEREH WANGI

Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Rendemen Dan
Mutu Minyak Atsiri Daun Sereh Wangi

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Negara kita termasuk negara penghasil minyak atsiri dan minyak ini juga
merupakan komoditi yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun
terakhir ini, minyak atsiri mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah
Indonesia. Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan sembilan jenis minyak atsiri
yaitu: minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar wangi,minyak pala,
minyak kayu putih dan minyak sereh wangi. Dari sembilan jenis minyak atsiri ini
terdapat enam jenis minyak yang paling menonjol di Indonesia yaitu: minyak pala
minyak nilam, minyak cengkeh dan minyak sereh wangi.
Minyak sereh merupakan komoditi di sektor agribisnis yang memiliki pasaran
bagus dan berdaya saing kuat di pasaran luar negeri. Tetapi tanaman sereh ini tampaknya
masih banyak yang belum digarap untuk siap diinvestasi. Sebagai contoh tanaman sereh
wangi, tanaman penghasil minyak atsiri yang dalam perdagangan dikenal dengan nama
"ei tronella oil". Nama ini masih asing bagi sebagian orang, sebab hampir sepuluh tahun
lebih sereh wangi luput dari perbincangan dan perhatian orang (Anonimous, 1988)
Khususnya di Sumatera utara, tanaman sereh wangi ini masih belum membudaya,
namun juga sebagian kecil petani yang mengusahakan ada tanaman ini sebagai usaha
sambilan, tanpa disertai pengolahannya atau penyulingannya. Perusahaan yang
melakukan penyulingan, mengerjakannya secara sederhana akan menurunkan kwalitas
minyak yang di hasilkan. Hal ini disebabkan cara penyulingannya ataupun lama
penyulingannya tidak memenuhi standar.
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa pada saat sekarang ini minyak sereh wangi
mempunyai harga pasaran yang tinggi sesudah minyak pala dan minyak lada. Hal ini
tentu akan melipat gandakan penghasilan petani. Hanya masalahnya sekarang adalah
masih banyak para petani sereh wangi yang melakukan penyulingan hanya secara
tradisionil saja. Sehingga untuk mendapatkan rendemen yang tinggi serta kwalitas
minyak yang dikehendaki konsuwen tidak terpenuhi. (Ketaren, 1985)
Dibalik harga yang tinggi dari minyak sereh wangi itu, minyak ini sangat sulit
dicari dalam jumlah yang banyak, artinya dapat menghasilkan rendemen yang tinggi serta
memenuhi kwalitas ekspor. (Anonimous, 1988)
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau alasan-alasan di atas, maka penulis
sangat, tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh lama penyulingan terhadap
rendemen dan mutu minyak sereh wangi. Hasil penelitian dapat dijadikan dasar untuk
menentukan lama penyulingan yang tepat guna menghasilkan rendemen yang tinggi serta
memenuhi kwalitas yang diinginkan untuk tujuan ekspor

2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak sereh wangi yang dihasilkan.

3. Hipotesis Penelitian.
Diduga lama penyulingan yang berbeda akan mempengaruhi rendemen dan mutu
minyak sereh wangi yang dihasilkan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Tinjauan Umum Minyak Atsiri.
Minyak yang terdapat di alam dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu: minyak
mineral (mineral oil), minyak yang dapat dimakan (edible fat) dan minyak atsiri
(essential oil). (Guenther,1987)
Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak teris atau minyak terbang
(volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu
kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent teste), berbau
wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya.
Umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut air. Minyak atsiri ini
merupakan salah satu dalam hasil sisa dari proses metabolisme dalam tanaman yang
terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak
tersebut disintesa dalam sel glandular pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk
dalam pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus. (Ketaren, 1981).
Tanaman penghasil minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies
tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae,
Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian
tanaman, yaitu, dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rizhome.
Minyak atsiri selain dihasilkan oleh tanaman, dapat juga bentuk dari hasil degradasi oleh
enzim atau terdapat dibuat secara sintetis. (Richards, 1944).
Di Indonesia banyak dibuat jenis-jenis minyak atsiri, seperti minyak nilam,
minyak cengkeh, minyak pala, minyak lada, minyak sereh dan lain-lain. Minyak sereh
adalah salah satu minyak Atsiri yang penting di Indonesia di samping minyak atsiri
lainnya. Produksi minyak sereh sebelum perang dunia II menempati puncak yang
tertinggi di pasaran dunia, begitu juga tentang mutunya. Akan tetapi setelah perang dunia
II produksi tersebut menurun dengan cepat, sehingga penghasil minyak sereh sampai
akhir tahun 1941 nilainya seperdelapan dari nilai sebelumnya. (Gu enther, 1987)
2. Sejarah dan Perkembangan Minyak Sereh
Di Indonesia secara umum tanaman sereh dapat digolongkan menjadi dua
golongan yaitu: sereh Lemon atau sereh bumbu (Cymbopogon citratus) dan sereh Wangi
atau sereh sitronella (Cymbopogon nardus). Umumnya kita tidak membedakan nama
sereh wangi dan sereh Lemon, meskipun kedua jenis ini mudah dibedakan. (Harris,
1987)
Dengan destilasi jenis ini memberikan hasil minyak yang lebih tinggi dari pada lenabatu, juga kwalitasnya lebih baik, artinya kandungan geraniol dan sitronellelal lebih tinggi dari pada lenabatu. Demikian pula, mahapengiri memerlukan
tanah yang lebih subur, hujan yang lebih banyak, pemeliharaan yang lebih baik dari pada
lenabatu. (Ketaren dan B, Djatmiko, 1978)
Catatan pertama di Eropa mengenai minyak sereh ditulis oleh Nicolaus Grimm,
yaitu seorang tabib tentara yang belajar obat-obatan di Colombo pada akhir abad 17.
Grimm menamakan rumput yang menghasilkan minyak tersebut Arundo Indica Odorata.
Pengiriman dari “Olium Siree” yang pertama sampai di Eropa adalah pada awal abad 18,
pada waktu itu minyak tersebut kelihatannya hanya sedikit diekspor. Pada tahun 1851
dan 1855 sedikit contoh minyak sereh diperlihatkan di "World Fairs" yang diadakan di
London dan paris. Kemudian minyak ini semakin dikenal Eropa, dan kegunaannya
semakin berkembang yaitu untuk wangi-wangian sabun dan sebagai bahan dasar dalam
industri wangi-wangian. Sejak tahun 1870 permintaan untuk minyak sereh naik, dan
sejumlah besar dihasilkan di Ceylon. Sampai tahun 1890 Ceylon tetap merupakan
penghasil yang terbesar di dunia, meskipun Jawa sudah mulai menghasilkan minyak
sereh dengan kwalitas yang lebih baik. Sekarang hasil minyak tipe Jawa telah jauh
melampaui tipe Ceylon. Walaupun demikian minyak Ceylon masih dapat melawan
persaingan dunia, karena harganya lebih murah. (Ketaren, 1985)
Produksi minyak sereh wangi Indonesia pada tahun tujuh puluhan pernah kesohor
dengan julukan "Jawa Citronella", namun beberapa terakhir ini terus menunjukkan
penurunan, tahun 1983 volume ekspor sitronella masih jauh, yaitu sekitar 328.567 kg,
lalu tahun naik sedikit menjadi 418.615 kg dan tahun 1987 menjadi 307.280 kg dengan
nilai 2 juta dolar AS. (anonimas, 1988).
3. Komposisi Kimia Minyak Sereh Wangi
Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup komplek, namun komponen
yang terpenting adalah sitronellal dan garaniol. Kedua komponen tersebut menentukan
intensitas bau, harum, serta nilai harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia
penyusun utama minyak sereh wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor.
Biasanya jika kadar geraniol tinggi maka kadar sitronellal juga tinggi.(Harris, 1987)
Komposisi minyak sereh wangi ada yang terdiri dari beberapa komponen, ada
yang mempunyai 30 - 40 komponen, yang isinya antara, lain alkohol, hidrokarbon, ester,
alaehid, keton, oxida, lactone, terpene dan sebagainya., Menurut Guenther (1950),
komponen utama penyusun minyak sereh wangi adalah sebagai berikut,
1.Geraniol ( C
10
H
18
0 )
Geraniol merupakan persenyawaan yang terdiri dari 2 molekul isoprene dan 1
molekul air, dengan rumus bangun adalah sebagai berikut :
CH
3
- C = CH - CH
2
--- CH
2
- C = CH - CH
2
- OH
CH
3
CH
3
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
3
2. Sitronellol ( C
10
H
20
0 )
Rumus bangunnya adalah sebagai berikut:
CH3 - C = CH - CH
2
--- CH
2
- CH - CH
2
- CH
2
- OH
CH
3
CH
3
3. Sitronellal (C10H16O)
Rumus bangunnya adalah sebagai berikut:
CH3 C = CH - CH2 --- CH2 - C = CH - C - H
CH
3
CH
3
Susunan kimia serehwangi yang ditanam di adalah seperti pada tabel-1.
Tabel-1. Susunan Kimia Minyak Sereh Wangi Yang Ditanam Di Taiwan
Senyawa Penyusunan Kadar (%)
Sitronellal
Geraniol
Sitronellol
Geraniol Asetat
Sitronellil Asetat
L – Limonene
Elemol & Seskwiterpene lain
Elemene & Cadinene
32 – 45
12 – 18
12 – 15
3 – 8
2 – 4
2 – 5
2 – 5
2 – 5
Sumber : Ketaren, 1985
3. Proses Penyulingan Minyak Sereh Wangi
Minyak atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan
persenyawaan padat yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, larut dalam
pelarut organik dan tidak larut dalam air. Berdasarkan sifat tersebut, maka minyak atsiri
dapat diekstrak dengan 4 macam cara, yaitu: Penyulingan (Destilation), Pressing (Eks-
pression), Ekstraksi dengan pelarut (Solvent ekstraksion) dan Absorbsi oleh menguap
lemak padat (Enfleurage). Cara yang tepat untuk pengambilan minyak dari daun sereh
adalah dengan cara penyulingan (Destilation). (Ames dan Matthews, 1968).
Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan
dari 2 macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini
dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air minyak sereh wangi.
(Stephen, 1948).
Jumlah minyak yang menguap bersama-sama uap air ditentukan oleh 3 faktor,
yaitu: besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul dari masing-masing
komponen dalam minyak dan kecepatan minyak yang keluar dari bahan. (Satyadiwiria,
1979).
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
4
Semakin cepat aliran uap air dalam ketel suling, maka jumlah minyak yang
dihasilkan per kg kondensat uap semakin rendah, sebaliknya semakin lambat gerakan uap
dalam ketel maka waktu penyulingan lebih lama dan rendemen minyak per jam rendah.
Sebagai bahan bakar penyulingan, para yuling biasanya menggunakan kayu
bakar, namun untuk mengurangi biaya produksi para penyuling lebih penuh kebanyakan
menggunakan ampas hasil sulingan. (Satyadiwiria, 1979)
Proses ekstraksi minyak pada permulaan penyulingan berlangsung cepat, dan
secara bertahap semakin lambat sampai kita-kita 2/3 minyak telah tersuling. (Ketaren dan
B. Djatmiko, 1978).
Rendemen minyak yang dihasilkan dari daun sereh tergantung dari bermacam-
macam faktor antara lain: iklim, kesuburan tanah, umur tanaman dan cara penyulingan.
Rendemen dipengaruhi oleh musim rata 0,7 % dan musim hujan 0,5 %. Menurut De Jong
rendemen minyak dari daun segar sekitar 0,5 - 1,2%, dan rendemen minyak di musim
kemarau lebih tinggi dari pada di musim hujan. Daun sereh jenis lenabatu menghasilkan
rendemen minyak 0,5 %.(Anonimous, 1970).
Berdasarkan pengamatan, tidak semua petani pengolah dapat menghasilkan
minyak sereh wangi bermutu tinggi, karena daun sereh wangi yang disuling sering
bercampur dengan rumput-rumputan atau karena daun yang dipanen terlalu muda atau
terlalu tua. Untuk menghasilkan rendemen minyak yang maksimum, biasanya para
penyuling skala rakyat mengeringkan daun di bawah sinar matahari selama : 3 - 4 jam
dan lama penyulingan diatur sedemikian rupa, sehingga komponen minyak seluruhnya
terekstraksi dan berkwalitas baik. Tetapi cara ini akan menghasilkan mutu minyak sereh
wangi yang rendah. (Ketaren, 1985)
Penyulingan minyak sereh wangi di Indonesia biasanya dilakukan dengan
menggunakan uap air yaitu dengan dua cara, secara langsung dan secara tidak langsung.
Pada penyulingan secara langsung, bahan atau daun sereh wangi yang akan
diambil minyaknya dimasak dengan air, dengan demikian penguapan air dan minyak
berlangsung bersamaan. Kendati penyulingan langsung seolah-olah memudahkan
penanganan tetapi ternyata mengakibatkan kehilangan hasil dan penurunan mutu.
Penyulingan langsung dapat mengakibatkan teroksidasi dan terhidrolisis, selain itu
menyebabkan timbulnya hasil sampingan yang tidak dikehendaki.
Pada penyulingan secara tidak langsung, yaitu dengan cara memisahkan
penguapan air dengan penguapan minyak. Bahan tumbuhan diletakkan ditempat
tersendiri yang dialiri uap air, atau secara lebih sederhana bahan tumbuhan diletakkan di
atas air mendidih. (Harris, 1987)
Pada awal penyulingan, akan tersuling sejumlah besar geraniol dan sitronellal,
sedangkan pada penyulingan lebih lanjut, total geraniol dan sitronellal yang dihasilkan
semakin berkurang. Berdasarkan pengalaman pada penyulingan 4,5 jam akan
menghasilkan minyak sereh wangi dengan kadar geraniol maksimum 85 persen dan
sixronellal 35 persen. Dengan demikian penyulingan diatas 4,5 jam (5- 6) jam tidak akan
menambah kadar kedua zat tersebut. Lama penyulingan tergantung dari tekanan uap yang
dipergunakan dan faktor kondisi terutama kadar air daun sereh. Pada prinsipnya, tekanan
yang dipergunakan tidak boleh terlalu tinggi, karena pada tekanan yang terlalu tinggi
minyak akan terdekomposisi, terutama pada waktu penyulingan yang terlalu lama. Suatu
hal yang penting dalam penyulingan minyak sereh adalah agar suhu dan tekanan tetap
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
5
seragam dan tidak menurun secara tiba-tiba selama proses berlangsung. (Virmani dan S.C
Bath, 1971).
Komposisi sitronellal, sitronellol dan geraniol dari hasil penyulingan daun sereh
wangi varietas G-2 selama 4 jam dapat dilihat pada tabel-2.
Tabel-2.
Hasil Penyulingan Daun Sereh Wangi Varietas G-2
Dengan Sistim Penyulingan Uap.
Kadar (%) Jam ke
Sitronellal Sitronellol Geraniol
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
63,43
45,81
29,28
15,75
12,54
16,36
18,04
12,25
10,57
13,90
13,37
8,06
Sumber : Ketaren, 1985
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kadar sitronellal lebih cepat turun
dibandingkan dengan kadar sitronellol dan geraniol (pada penyulingan jam kedua kadar
sitronellal sudah turun sedangkan kadar geraniol turun pada penyulingan jam ketiga dan
kadar sitronellol turun pada jam keempat).
4. Syarat Mutu Minyak Sereh Wangi
Penyebab bau utama yang menyenangkan pada minyak sereh wangi adalah
sitromellal, yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan parfum, oleh kerena itu
minyak sereh dengan kadar sitronellal yang tinggi akan lebih digemari. Jenis minyak
yang demikian akan diperoleh dari fraksi pertama penyulingan. Khususnya di Indonesia,
minyak sereh wangi yang diperdagangkan diperoleh dengan cara penyulingan daun
tanaman Cymbopogon nardus. Minyak sereh wangi Indonesia digolongkan dalam satu
jenis mutu utama dengan nama “Java Citronella Oil".
Standar mutu minyak sereh wangi untuk kwalitas ekspor dapat dianalisa menurut
kriteria fisik yaitu berdasarkan: warna, bobot jenis, indeks bias, ataupun secara kimia,
berdasarkan: total geranial, total sitronellal. (Kapoor dan Krishan,1977)
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
6
Tabel-3.
Standar Mutu Minyak Sereh Wangi Indonesia Berdasarkan
Sifat Fisika dan Sifat Kimia
Karakteristik Syarat
Warna
Bobot jenis, 25° C
Indeks bias, 25° C
Total geraniol, min
Total sitronellal, min
Zat – zat asing :
Alkohol
Minyak pelikan
Lemak
Kuning pucat sampai kecoklatan
0,850 - 0,892
1,454 - 1,473
85%
35%
-
-
-
Sumber : Departemen Perdagangan, 1974
Minyak sereh wangi tidak memenuhi syarat ekspor apabila kadar geraniol dan
rendah atau mengandung bahan aging. Kadar geraniol dan sitronellal yang rendah
biasanya disebabkan oleh jenis tanaman sereh yang kurang baik, di samping
pemeliharaan tanaman yang kurang baik serta umur tanaman yang terlalu tua. Bahan-
bahan daging yang terdapat dalam minyak sereh wangi berupa lemak, alkohol dan
minyak tanah sering digunakan sebagai bahan pencampur. Bahan ini terdapat dalam
minyak sereh mungkin karena berasal dari bahan kemasan yang sebelumnya mengandung
zat tersebut di atas. (Ketaren den B. Djatmiko, 1978)
Kwalitas minyak berdasarkan kandungan geraniol dan sitronellal dapat
digolongkan menjadi 3 golongan seperti pada tabel-4.
Tabel - 4.
Standar Mutu Minyak Sereh Wangi
Berdasarkan Kadar Geraniol Den Sitronellal
Kwalitas Geraniol (%)* Sitronellal (%)**
A
B
C
Tidak boleh 85
80 – 85
85
Tidak boleh 35
-
-
Sumber : Balai Penelitian Kimia Bogor
* = persen total geraniol
** = persen total sitronellal
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
7
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
1. Bahan Penelitian
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sereh wangi
(Cymbopogmn nardus) yang diperoleh dari daerah Dolok Melangir Kabupaten
Simalungun.
2. Perakitan dan Bahan Kimia Yang Digunakan
- HCl 0,5 N
- Alkohol 95%
- Aquades
- Hidroksi Amonium klorida dalam etanol
- KOH 0,5 N dalam etanol 95%
- Brom fenol blue lart dalam etanol
- Asetat anhidrid 98 - 100%
- Natrium asetat anhidrid
- Natrium Cloridac
- Natrium Carbonat
- Magnesium sulfat anhidrid
- Phenolptalein
- Alat asetilasi
- Gelas ukur
- Corong pemisah
- Alat pemanas elektrik
- Kertas lakmus
- Timbangan listrik
- Neraca analitik
- Erlemmeyer
- Buret
- Pipet
- Tabung reaksi
- Gelas piala
- Kertas saring
- Kondensor
- Piknometer
- Water bath
-
Refraktometer
- Ketel penyulingan
- Kompor gas
- Plastik
- Labu ukur
3. Tempat penelitian dilakukan di laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian
USU Medan.
4. Metode Penelitian
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
8
Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan non faktorial dengan perlakuan
sebagai berikut :
A = Lama penyulingan 2,5 jam
B = Lama penyulingan 3,0 jam
C = Lama penyulingan 3,5 jam
D = Lama penyulingan 4,0 jam
E = Lama penyulingan 4,5 jam
F = Lama penyulingan 5,0 jam
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) non faktorial dengan banyak ulangan yang digunakan adalah sebagai berikut :
t (n-1)
> 15
6(n-1)
> 15
6n > 21
n = 3,5
n = 4
Data diolah secara statistik dengan model rancangan:
Yij = µ + τ i + ij
dimana :
Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan lama penyulingan pada taraf ke i
Dan ulangan ke j
µ = Efek dari nilai tengah
τi = Efek perlakuan pada taraf ke i
ij = Galat pada setiap unit percobaan pada taraf ke –ij
Bila terdapat perbedaan yang nyata (*) dimana Fh > F.05 atau berbeda sangat
nyata (**) di Fh > F.01, maka pengujian dengan uji beda rata – rata DMRT (Duncant's
Multiple Range Test) dengan menggunakan tabel SSR.05 den SSR.01 yang disesuaikan
dengan DB acak yang diperoleh, yang disebut juga uji beda rata-rata LSR (Least
Significant Range).
5. Pelaksanaan Penelitian
5.1 Penyediaan bahan penelitian
Tanaman sereh wangi yang telah berumur kurang lebih enam bulan dipanen.
pemanenan dilakukan dengan memotong helai daun tiga sentimeter di etas pelepah daun,
kemudian dikering anginkan atau dilayukan selama 3 hari 3 malam.
5.2 Penyulingan
Daun sereh wangi yang telah dilaukan kemudian dirajang untuk mengurangi sifat
kamba, daun sereh yang telah dirajang dimasukkan ke dalam alat penyuling sebanyak
300 gram, kemudian di isi air sebanyak 2.250 ml. Alat penyuling dihubungkan dengan
kondensor yang dilengkapi dengan sirkulasi air, hidupkan air pet dan disuling sesuai
perlakuan.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
9
6. Pengamatan dan Pengukuran Data Pengamatan dan pengukuran data
didasarkan pada hasil analisa yang meliputi :
6.1 Rendemen (%)
Destilat yang dihasilkan ditampung dengan erlenmeyer 500 ml, kemudian
dipindahkan keburat untuk memisahkan minyak dengan air. Minyak yang diperoleh
ditimbang beratnya dengan neraca analitik.
berat minyak
Rendemen (%) = ----------------------------------------- X 100 %
berst daun sebelum disuling 100%
6.2 Total Geraniol (%)
Dicampur kira-kira 10 ml minyak, 10 ml asetat anhidrid dan 2 gram Natrium
asetat anhidrid di dalam labu alat asetilasi, kemudian ditambahkan potongan-potongan
kecil batu apung atau porselin dan dipasang pendingin reflaksinya. Setelah itu dipanaskan
diatas pemanas uap dan cairan direfluks selama 2 jam. Setelah 2 jam direfluks cairan
dibiarkan menjadi dingin, tambahkan 50 ml aquadest dan dipanaskan pada suhu 40-50
o
C
selama 15 menit sambil sering dikocok kemudian didinginkan sampai suhu kamar.
Setelah dingin pipa refluks dilepaskan dan cairan dipindahkan ke dalam corong pemisah,
lalu dibilas dengan aquadest; sebanyak 2 kali masing-masing 10 ml, dan masukkan air
pencucian ini kedalam corong pemisah, kemudian ditunggu sampai cairan memisah
dengan sempurna, setelah itu lapisan airnya dibuang. Cuci lapisan minyak dengan
dikocok menggunakan 50 ml larutan natrium elorida, dan ditunggu sampai minyak
terpisah sempurna, dikocok lagi. hal ini diulangi sampai 3 kali pengocokan. Pencucian
diulangi seperti hal diatas dengan larutan natrimum karbonat, natrium elorida lagi
masing-masing dengan 50 ml. Dan terakhir dicuci dengan 20 ml aquades juga dengan 3
kali pengocokan. Dan pisahkan lapisan minyak. Setelah pencucian dicelupkan kertas
lakmus sehingga larutan menjadi netral. Kemudian lapisan minyak dipindahkan kedalam
tabung reaksi yang kering, tambahkan 3 gram Natrium sulfat anhidrid, kemudian minyak
disaring dan ditambahkan lagi 3 gram Natrium sulfat anhidrid, dan disaring lagi. Minyak
hasil saringan ditimbang sebanyak 2,5 mg dan ditambahkan 2 ml aquades, 25 ml KOH
0,5 N alkoholik didalam erlemmeyer dan dididihkan selama 1 jam, kemudian didinginkan
Dengan cepat, ditambahkan 20 ml aquades dan beberapa tetes phenolptalein, kemudian
dititrasi dengan 0,5 N HCL, dan buat blankonya.
28,05 (V1 V0)
A = ---------------------------- X fk
W
MA
Total geraniol (%) = ----------------------------- X fk
561 - 0,42 A
A = bilangan ester setelah asetilasi
V
1
= Volume dalam ml dari larutan 0,5 N HCl untuk titrasi blanko.
V
0
= Volume dalam ml dari larutan 0,5 N HCl untuk titrasi contoh
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
10
W = Berat minyak dalam gr setelah asetilasi
561 = Berat molekul KOH (56,1) x 10 (gr)
M = Berat molekul geraniol
fk = faktor koreksi dari 0,5 N HCL (0,9982)
6.3 Total Citonellal (%)
Dengan menggunakan buret dimasukkan ke dalam sebuah labu erlemmeyer, 20
ml larutan hidroksil amin klorida, 10 ml larutan KOH 0,5 Nalkoholik. Dituangkan
campuran ini ke dalam erlemmeyer yang berisi 0,8 gr minyak.
Kemudian erlemmeyer yang bekas larutan tadi disimpan dengan tanpa
mencucinya, setelah itu erlemmeyer yang berisi campuran dan minyak di diamkan,
kemudian ditambahkan brom fenol blue beberapa tetes, dan dititrasi dengan 0,5N HCl
sesuai dengan perlakuan, sampai terjadi warna kuning kehijau-hijauan, kemudian
dipindahkan separuh dari campuran ini ke dalam erlemmeyer yang, disimpan tadi,
kemudian dititrasi dengan HCl 0,5 N HCl sampai terjadi warna kuning muda, di
pindahkan lagi ke dalam labu yang satu lagi, dan dicampur, dikembalikan lagi separuh
dari larutan ke dalam erlemmeyer yang satu lagi, di lanjutkan cara ini sampai suatu saat
penambahan 0,5 N HCl ke dalam erlemmeyer itu tidak lagi menimbulkan perubahan
warna bila dibandingkan dengan warna larutan yang terdapat didalam erlemmeyer ke
dua, kemudian buat blankonya.
M(V
1
– V
0
)
Total Citronellal (%) = --------------------------- fk
20 m
M = Berat molekul citronellal
m = Massa minyak
V
0
= Volume 0,5 N HCl untuk penentuan
V
1
= Volume 0,5 N HCl untuk blanko
fk = 0,8892
6.4 Bobot Jenis
Piknometer dikosongkan hingga bebas dari air, kemudian didiamkan di neraca
analitik selama 30 menit, kemudian ditimbang (berat piknometer kosong). Setelah itu
piknometer diisi aquades secara pelan-pelan hingga tidak terjadi gelembung udara dan
diletakkan di water bath yang mempunyai sirkulasi air pada suhu 25
ο
C selama 30 menit,
kemudian diangkat, dilap sampai bersih kemudian diletakkan didalam neraca analitik
selama 30 menit dan ditimbang beratnya (berat piknometer + minyak).
Bobot contoh minyak
Bobot Jenis = --------------------------------
Berat air
Berat contoh minyak = Berat (piknometer + contoh) - berat piknometer
Berat air = Volume minyak = volume air
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
11
6.5 Indeks Bias
Ke dalam alat refraktometer abbe yang telah dialirkan air pada suhu 25°C
ditempatkan minyak sereh pada permukaan prisma santutup dengan memutar skrup.
Dibiarkan alat beberapa menit kemudian baca.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Rendemen Minyak Sereh Wangi
Dari hasil penelitian ternyata lama penyulingan memberi pengaruh yang sangat
nyata ( P 0,01 ) terhadaparendemen minyak sereh wangi. Hal ini dapat dilihat pada
lembaran-2.
Perbedaan rendemen minyak dari setiap perlakuan lama penyulingan telah diuji
dengan Significant Ranges (LSR), seperti terlihat Least pada tabel-5 berikut.
Tabel-5.
Least Significant Ranges (LSR) Pengaruh Lama. Penyulingan Terhadap Rendemen
Minyak Sereh Wangi
LSR Notasi P
α . 05 α . 01
Perlakuan Rata – Rata
(%)
. 05 . 01
-
2
3
4
5
6
-
0,0187
0,0196
0,0202
0,0206
0,0209
-
0,0256
0,0219
0,0276
0,0281
0,0285
A
B
C
D
E
F
0,97
1,07
1,11
1,18
1,20
1,20
e
d
c
ab
a
a
E
D
C
AB
A
A
Keterangan : Notasi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata san untuk huruf
yang berbeda menunjukkan berbeda nyata.
Dari tabel -5 di atas dapat dilihat perbedaan rendemen minyak sereh wangi karena
pengaruh lama penyulingan. Untuk memperjelas tingkat perbedaan tersebut dapat dilihat
pada grafik berikut ini.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
12
Dari gambar-1 dapat dilihat dengan jelas perbedaan rendemen minyak sereh
wangi akibat lama penyulingan yang berbeda. Dimana dari perlakuan grafik tersebut
dapat dilihat rendemen minyak berkisar antara 0,97 - 1,2 %. Dari sini minyak sereh yang
diperoleh berarti sesuai dengan literatur yaitu 0,5 - 1,2%.(Ketaren dan B. Djatmiko,
1978).
Bila dilihat dari masing-masing perlakuan dapat disimpulkan, semakin lama
waktu penyulingan maka rendemen yang diperoleh semakin tinggi sampai lama
penyulingan tertentu rendemen ini tidak akan bertam Dalam hal ini lama penyulingan 4,5
jam menghasilkan rendemen yang tertinggi yaitu 1,2 %. Dan pada lama penyulingan 5
jam tidak menambah rendemen minyak, hal ini disebabkan pada lama penyulingan 5 jam
tidak ada lagi sel-sel minyak yang dapat ditarik atau diuapkan, dengan perkataan lain
minyak telah habis tersuling.
Semakin disuling sampai batas 4,5 jam rendemen minyak akan semakin naik, hal
ini disebabkan oleh semakin banyaknya panas yang diterima oleh bahan untuk
menguapkan sel-sel minyak dari bahan dan semakin banyak uap yang berhubungan
dengan sel-sel minyak lama Jaringan bahan, sehingga minyak yang terekstraksi semakin
banyak. Di samping itu semakin lama penyulingan maka semakin banyak panas yang
diterima dan proses diffusi akan meningkat sehingga proses penyulingan semakin
dipercepat. (Rusli, 1979).
2. Total Geaniol Minyak Sereh Wangi
Dari hasil penelitian ternyata lama penyulingan memberi pengaruh yang sangat
nyata (P 0,01) terhadap total geraniol minyak sereh wangi, hal ini dapat dilihat pada
lampiran-4.
Perbedaan total geraniol dari setiap perlakuan lama penyulingan telah diuji
dengan Least Significant Ranges, seperti terlihat pada tabel-6 berikut.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
13
Tabel-6
Least Significant Ranges (LSR)
Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Total Gefaniol Minyak Sereh Wangi.
LSR Notasi P
α . 05 α . 01
Perlakuan Rata – Rata
(%)
. 05 . 01
-
2
3
4
5
6
-
0,48
0,50
0,51
0,52
0,53
-
0,65
0,68
0,70
0,71
0,72
A
B
C
D
E
F
47,34
49,05
51,39
52,34
52,69
52,09
f
e
d
ab
a
bc
F
E
CD
AB
A
ABC
Keterangan : Notasi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata san untuk huruf
yang-berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata.
Dari tabel 6 di atas dapat dilihat perbedaan total geraniol minyak sereh wangi
karena pengaruh lama penyulingan. Untuk memperjelaskan tingkat perbedaan tersebut
dapat dilihat sebagaimana terdapat pada grafik berikut.
Dari gambar-2 dapat dilihat dengan jelas perbedaan total geraniol minyak sereh
wangi akibat perlakuan lama penyulingan yang berbeda. Total geraniol dari masing-
masing perlakuan berkisar antara 47,34 - 52,69 %. Dari kisaran tersebut maka minyak
sereh dalam penelitian ini mengandung total geraniol redah, sehingga minyak ini tidak
memenuhi yang stender kwalitas ekspor. Dalam literatur telah disebutkan bahwa total
geraniol untuk kwalitas ekspor minimum harus 85%. (Departemen perdagangan, 1974)
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
14
Rendahnya total geraniol tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
perlakuan sebelum penyulingan, cara penyulingan dan umur tanaman. (Harris, 1987).
Perlakuan sebelum penyulingan seperti jangan dan perajangandan pelayuan
sangat mempengaruhi total graniol. Perajangan dapat menyebabkan terdifusinya molekul
minyak ke permukaan bahan sehingga minyak terikut menguap bersama air. Demikian
hanya dengan pelayanan.
Cara penyulingan akan mempengaruhi total geraniol. Pada penyulingan ini
menggunakan cara penyulingan dengan air mendidih, artinya bahan langsung kontak
dengan air mendidih, pada suhu tinggi geraniol akan mudah terpolemirisasi sehingga
akan mengurangi total geraniol, disamping itu pada suhu tinggi geraniol akan mudah
terdekomposisi. (Guenther,1987)
Umur tanaman atau jenis tanaman juga sangat mempengaruhi total geraniol.
Mungkin dalam penelitian ini jenis sereh wangi yang ditanam di Dolok Melangir tersebut
bukan jenis sereh daerah menghasilkan minyak dengan kwalitas yang yang tinggi serta
memenuhi stender mutu ekspor Perdagangan.
Bila dilihat dari masing-masing perlakuan, semakin lama penyulingan maka dari
grafik kita lihat total geraniol semakin tinggi sampai batas lama penyulingan 4,5 jam
disebabkan oleh semakin banyaknya panas yang diterima oleh bahan untuk menguapkan
sel-sel minyak dari bahan sehingga total geraniol akan semakin tinggi.
Pada lama penyulingan 5 jam total geraniol akan turun. Hal ini disebabkan oleh
bahan yang terlalu lama dipanasi sehingga menyebabkan geraniolkan terdekomposisi
menjadi senyawa-senyawa isopren. Disamping itu, karena geraniol merupakan komponen
volatil oil maka pada pemanasan yang lama menyebabkan geraniol hilang. Atau karena
pemanasan yang lama geraniol akan terpolimerisasi yang menghasilkan polimer-polimer
dengan berat molekul yang lebih tinggi.
Minyak atsiri selama proses pengolahan (ekstraksi) yang mempergunakan tekanan
dan suhu tinggi akan terpolimerisasi.(GUENTHER,1950)
3. Total Sitronellal Minyak Sereh Wangi
Dari hasil penelitian ternyata lama penyulingan memberi pengaruh yang sangat
nyata (P0,01 ) terhadap kadar sitronellal minyak sereh wangi, hal ini dapat dilihat pada
Lampiran-6.
Perbedaan kadar sitronellal dari setiap perlakuan lama penyulingan telah diuji
dengan uji Least Significant Ranges (LSR). Seperti terlihat pada tabel-7.
Tabel-7.
Least Significant Ranges
Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Total Sitronellal Minyak Sereh Wangi.
LSR Notasi P
α . 05 α . 01
Perlakuan Rata – Rata
(%)
. 05 . 01
-
2
3
4
5
6
-
1,420
1,491
1,534
1,563
1,587
-
1,945
2,041
2,094
2,132
2,165
A
B
C
D
E
F
39,868
40,555
43,579
45,579
45,816
45,154
e
e
d
a
ab
abc
E
E
BCD
A
AB
ABC
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
15
Keterangan : Notasi huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata dan untuk huruf
yang berbeda menunjukan perbedaan yang sangat nyata.
Dari tabel -7 diatas dapat dilihat perbedaan kadar sitronellal minyak sereh wangi karena
pengaruh lama penyulingan. Untuk memperjelas tingkat perbedaan tersebut dapat dilihat
sebagaimana terdapat pada grafik berikut.
Dari gambar-3 dapat dilihat dengan jelas perbedaan total sitronellal minyak sereh
wangi akibat perlakuan penyulingan yang berbeda. Dari grafik dapat dilihat total
sitronellal masing – masing perlakuan berkisar antara,39,868-45,841%.
Minyak sereh wang untuk kwalitas ekspor harus mengandung total sitronellal
35%.(Guenther, 1983).
Minyak sereh wangi dalam penelitian ini memang mengandung sitronellal yang
tinggi ()35%) tetapi tidak memenuhi untuk kwalitas ekspor, karena mengandung total
geraniol yang rendah seperti yang telah dijelaskan terdahulu.
Dari gambar 3 juga dapat dilihat, semakin lama penyulingan, total sitronellal
semakin naik sampai batas lama penyulingan 4 jam.Lama penyulingan lebih dari 4 jam
(4,5 dan 5 jam) total sitronellalnya menjadi turun.
Kenaikan kadar sitronellal sampai batas lama penyulingan 4 jam, seperti halnya
juga total geraniol, yaitu disebabkan oleh semakin banyaknya panas yang diterima oleh
bahan untuk menguapkan sel-sel minyak dari, bahan sehingga total sitronellal akan
semakin tinggi.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
16
Pada lama penyulingan lebih dari 4,5 jam kadar sitronellal menjadi turun, hal ini
disebabken oleh bahan yang terlalu lama dipanasi, sehingga menyebabkan sitronellal
akah terdekomposisi menjadi senyawa isopren. Disamping itu, seperti halnya geraniol,
sitronellal juga merupakan senyawa volatil oil sehingga dengan pemanasan yang terlalu
lama akan semakin banyak yang hilang. Juga karena pemanasan yang terlalu lama
minyak akan terpolimerisasi yang menghasilkan polimer-polimer dengan berat molekul
yang lebih tinggi. (Ketaren dan B. Djatmiko, 1978).
Jika kita bandingkan dengan total geraniol total sitronellal pada lama penyulingan
4,5 jam sudah menunjukkan penurunan, sedangkan total geraniol menunjukkan
penurunan pada lama penyulingan 5 jam. Hal ini disebabkan sitronellal mempunyai titik
didih yang 1ebih rendah (225
o
C) dibandingkan dengan titik didih geraniol (230
o
C),
sehingga sitronellal lebih mudah hilangnya. (Ketaren, 1985).
4. Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi
Dari hasil penelitian ternyata lama penyulingan memberi pengaruh yang nyata
(P 0,05) terhadap bobot jenis minyak sereh wangi, hal ini dapat dilihat pada lampiran-8.
Perbedaan bobot jenis dari setiap perlakuan lama penyulingan telah diuji dengan
uji Least Signifi cant Ranges seperti terlihat pada tabel-8 .
Tabel-8.
Least Significant Ranges
Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi.
LSR Notasi P
α . 05 α . 01
Perlakuan Rata – Rata
(%)
. 05 . 01
-
2
3
4
5
6
-
0,0036
0,0037
0,0038
0,0039
0,0040
-
0,0049
0,0051
0,0052
0,0053
0,0054
A
B
C
D
E
F
0,8915
0,8893
0,8878
0,8858
0,8848
0,8855
a
ab
abc
bc
c
bc
A
AB
AB
B
B
B
Keterangan : Notasi huruf yang game menunjukkan tidak berbeda nyata dan huruf yang
berbeda menunjukkan berbeda nyata.
Dari tabel-8 dapat dilihat perbedaan bobot jenis sereh wangi karena pengaruh
lama penyulingan. Untuk memperjelas tingkat perbedaan tersebut dapat dilihat
sebagaimana terdapat pada gambar-4.
Dari grafik dapat dilihat dengan jelas semakin lama penyulingan bobot jenisnya
semakin keuil sampai batas lama penyulingan 4,5 jam, dan akan naik pada lama
penyulingan 5 jam. Semakin turunnya bobot jenis sampai batas lama penyulingan 4,5 jam
disebabkan oleh semakin naiknya kadar geraniol dan sitronellal sampai lama penyulingan
4,5 jam. Geraniol dan sitromellal merupakan petunjuk kemurnian minyak sereh wangi.
Jadi semakin banyaknya geraniol dan sitronellal minyak tersebut semakin murni.
(ANONIMUS,1978).
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
17
Pada grafik juga kita lihat, pada lama penyulingan 5 jam bobot jenis menjadi
makin naik, hal ini disebabkan pada lama penyulingan 5 jam geranibl dan' si tronellal
akan terpolimerisasi sehingga kemurnian minyak akan turun akibat terbentuknya
polimer-polimer dengan berat molekul yang lebih tinggi.
5. Indeks Bias Minyak Sereh Wangi
Dari hasil penelitian ternyata lama penyulingan memberi pengaruh yang nyata
(P 0,05) terhadap indeks bias minyak sereh wangi,hal ini terlihat pada lampiran-10.
Perbedaan indeks bias dari setiap perlakuan lama penyulingan telah diuji dengan
uji Least Significant Ranges seperti terlihat pada tabel-9 berikut.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
18
Tabel-9.
Least Significant Ranges (LSR)
Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Indeks Bias Minyak Sereh Wangi.
LSR Notasi P
α . 05 α . 01
Perlakuan Rata – Rata
(%)
. 05 . 01
-
2
3
4
5
6
-
0,0033
0,0034
0,0035
0,0036
0,0037
-
0,0045
0,0047
0,0048
0,0049
0,0050
A
B
C
D
E
F
1,4722
1,4707
1,4690
1,4667
1,4467
1,4665
a
ab
abc
bc
c
bc
A
AB
AB
B
B
B
Keterangan : Notasi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dan huruf yang
berbeda menunjukkan berbeda,nyata.
Dari tabel-9 dapat dilihat perbedaan indeks bias minyak sereh wangi karena
pengaruh lama penyulingan. Untuk memperjelas tingkat. perbedaan tersebut dapat dilihat
sebagaimana terdapat pada gambar-5.
Dari grafik tersebut dapat dilihat dengan jelas semakin lama penyulingan indeks
bias akan semakin kecil.Jika sinar datang dari media yang kurang rapat ke media yang
lebih rapat maka sinar tersebut akan dibiaskan mendekati garis normal dan jika sinar
datang dari media yang lebih rapat kemedia yang kurang rapat maka sinar akan dibiaskan
menjadi garis normal. (MANGUNWIYOTO, 1973)
Seperti kita ketahui bahwa rumus indeks bias adalah sebagai berikut :
N
Sin i
n = --------- i
Sin r
n = indek Bias
I = sinar datang
R = sinar bias r
Dari keterangan diatas, maka semakin lama disuling indeks akan semakin kecil,
karena semakin lama disuling minyak akan semakin rendah kerapatannya, maka sinar
bias akan semakin mendekati garis normal, maka sudut bias akan semakin besar
akibatnya indeks bias akan semakin kecil.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
19
V. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
1.1 Lama penyulingan memberi pengaruh yang sangat nyata (P 0,01) terhadap
rendemen, total geraniol, total sitronellal dan memberi pengaruh yang sangat
nyata (P 6,05) terhadap bobot jenis dan indeks bias.
1.2 Lama penyulingan yang terlalu lama (diatas 4,5 jam) akan menurunkan mutu
rendemen yang dikehendaki.
1.3 Minyak sereh wangi dalam penelitian ini tidak memenuhi stander mutu ekspors
karena mengandung total geraniol yang rendah.
2. Saran
2.1 Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai tekanan dan temperatur yang
digunakan pada penyulingan minyak sereh wangi.
2.2 Untuk menghasilkan mutu dan rendemen yang dikehendaki, lama penyulingan
yang optimum adalah 4, 5 jam.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
20
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 1970. Spesification standards essential oil association of USA Inc.
__________,1974. Direktorat Standardisasi, Normalisasasi Dan Pengendalian Mutu,
Departemen Perdaganaan Dan Koperasi.
__________,1978. Analisa Total Geraniel Pads Minyak Sereh Wangi, Departemen
Perdagangan
__________,1983. Petunjuk Praktek Pengawasan Mutu Hasil Pertanian, Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan.
__________,1988. Sereh Wangi Menunggu Investor. Majalah Trubus No. 219, Tahun
XIX, Februari1988
__________,1988. Harga Minyak Atsiri Menggembirakan. Majalah Trubus No. 221,
Tahun XIX, 1 April 1988.
Ames G.R [dan] W.S. A Matthews, 1968. The Destilation Of Essential Oil, Trop. Sci.
Bangun , M.K., 1981. Rancangan Percobaan Bagian I, Bagian Biometri, Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
Guenther, E, 1950. The Essential Oil, Volume I, Van Nostrand Company Inc. New York.
Guenther, E, 1950. The Essential Oil, Volume IV Van Nostrand Company Inc, New
York.
Guenther, E, 1987. Minyak Atsiri. Jilid I, Universitas Indonesia Press, Jakarta
Rarris, R, 1987. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta. .
Kapoor, L. D [and] Ram Krishan, 1977. Advances In Essesntial Oil Industry, Held At
Kanpur.
Ketaren, S [dan] B. Djatmiko, 1878. Minyak Atsir Bersumber Dari Daun, Departemen
Teknologi Hasil Pertanian, Fatemeta IPB Bogor.
Ketaren, S dan B. Djatmiko, 1978. Minyak Atsiri Bersumber Dari Bunga Dan Buah,
Departemen Teknologi Hasil Pertanian, Fatemeta IPB, Bogor.
Ketaren, S, 1981. Minyak Atsiri. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Ketaren, S, 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka Jakarta.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara
21